DASAR-DASAR LAHIRNYA NUBUATAN I.S. KIJNE BAGI PAPUA DALAM STANDARD PENGGENAPAN ALKITAB DAN HUBUNGANNYA DENGAN NUBUATAN ISRAEL DI AKHIR ZAMAN
Bilangan 24:1-9
OLEH
HAMAH SAGRIM
Telah ditemukan di ujung timur jauh ujung bumi suatu bangsa yang dipilih Tuhan dengan tanda kemuka sebagai bangsa profetik yang begitu mencintai Israel, dan bangsa itu adalah Papua.
dasar-dasar lahirnya nubuatan Bileam bagi Israel dan komunikasinya dengan Dasar-dasar lahirnya nubuatan bagi Papua oleh Dominee I.S. Kijne dalam standard alkitab sebagai berikut:
1. Ketika dilihat Bileam, bahwa baik di mata TUHAN untuk memberkati Israel, ia tidak mencarikan pertanda lagi seperti yang sudah-sudah, tetapi Ia menghadapkan mukanya ke arah padang gurun – ketika dilihat I.S. Kijne bahwa baik di mata TUHAN untuk memberkati Papua, Kijne tidak mencari tanda lagi tetapi ia memandang jauh kedepan tentang Papua maka lahirlah maklumat Aitumieri. (Bilangan 24:1).
2. Ketika Bileam memandang ke depan dan melihat orang Israel berkemah menurut suku mereka, maka Roh Allah menghinggapi dia, Lalu diucapkanlah sajak kepada Israel – I.S. Kijne melihat orang Papua hidup (berkemah) menurut suku mereka, maka Roh Allah menghinggapi dia, lalu diciptakanlah nyanyian Mazmur Rohani kepada Papua (Bilangan 24:2-4).
3. Berkatalah Bileam kepada Balak: “Dirikanlah bagiku disini tujuh mezbah dan siapkanlah bagiku disini tujuh ekor lembuh jantan dan tujuh ekor domba jantan – Perkataan I.S. Kijne pada tahun 1923 ketika tiba di Mansinam delapan bulan kemudian dikatakan bahwa Tanah New Guinea begitu lengkap dengan alamnya, disana ada Pantai Pasir, ada lautan, ada karang, ada gunung menjulang, ada lembah, ada bukit-bukit, ada hutan rimba yang semestinya aku ingin dibagikan menjadi tujuh formasi adat. (Bilangan 23:29).
Maklumat Aitumieri merupakan nubuatan peradaban Papua yang semestinya dimaknai sebagai proklamasi agung dari TUHAN disampaikan kepada Domine I.S. Kijne untuk dilakukan untuk bangsa ini. Mata Tuhan menilik bangsa Papua karena Dia berkepentingan atas Papua. Mata Tuhan menjelajahi seluru bumi dan memperhatikan semua bangsa, tetapi Israel Tuhan jaga dan Papua Tuhan kawal.
Demi Israel Tuhan menaruh identitas-Nya – demi Papua Identitas Tuhan disampaikan (Keluaran 3:14). Maklumat Sinai Tuhan meletakkan nama-Nya atas Israel – Maklumat Mansinam, nama Tuhan diletakkan di atas Papua. Atas dasar inilah, I.S. Kijne dipanggil ke Papua. Tuhan kawal Kijne mempersiapkan anak-anak Papua untuk mengerjakan perencanaan Tuhan yang besar bagi dunia.
Pada 05 Feberuari 1855 Ottow dan Geissler tiba di Mansinam – Proklamasi nama Tuhan ditetapkan “Dengan Nama Tuhan Kami Menginjakan kaki di tanah ini”. Ketika nama Tuhan diletakkan di atas Papua, Tuhan memberkati Papua dan Tuhan pun kawal Papua.
Pada tahun 1923, Dominee I.S. Kijne tiba di Mansinam. Tuhan memanggilnya untuk persiapan kerja yang besar, maka di Mansinam, Kijne berdoa, mengamati, dan menilai anak-anak Papua. Pernyataan pertama I.S. Kijne bagi anak-anak Papua adalah “Anak-anak Papua sangat rajin berkerja dan mereka bisa berkerja untuk tanahnya sendiri”. Inilah pernyataan pertama Kijne pada tahun 1923, (Amsal 10:4, 5a)“4. Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan yang orang rajin menjadikan kaya. 5a. Siapa mengumpulkan pada musim panas ia berakal budi;”
Kijne melihat kehidupan anak-anak Papua yang setiap hari keluar pagi untuk berkerja diladang, dan pulang ke rumah ketika sore hari dengan hasil berlimpah-limpah dengan bersorak sorai. Sambil mempelajari cara kehidupan sosial budaya orang Papua, Kijne pun berkunjung ke daratan besar Manokwari, Wondama, Windesi, Ron, Serui, Joka. Kijne melihat bahwa tanah Papua adalah tanah yang subur, air yang jernih, persisir pantai yang indah permai senja yang begitu indah sehingga ia sadar bahwa Papua adalah tanah milik Tuhan karena penuh dengan susu dan madu oleh karena itu, di atas batu Inspinasi Kijne melanjutkan ucapan syukur bagi Tuhan dengan menyanyikan Nyanyian Seruling Mas 2: 7 “Syukur bagi-mu Tuhan; kau brikan tanahku, bri aku rajin juga sampaikan maksudmu”.
Ungkapan syukur Kijne begitu mendalam karena ia sangat mencintai Papua lebih dari keluargannya sendiri. Rasa kecintaannya itu diungkapkan dalam nyanyian Seruling Mas 2:1 “Hai tanahku Papua, kau tanah lahirku kau hendak ku kasihi sehingga ajalku”.
Kijne sangat mencintai alam Papua, pasirnya yang putih di pantai, gemuruh ombak yang merdu, gunung-gunung yang tinggi besar, dan tanah Papua yang subur sehingga dia mengabadikannya dalam nyanyian Seruling Mas 2:2,3,4,5,6
2. Ku kasih pasir putih di pantaimu senang di mana lautan biru berkilat dalam trang.
3. Ku kasih bunyi ombak, pemukul pantaimu, nyanyian yang slalu senangkan hatiku
4. Ku kasih gunung-gunung, besar, mulialah, dan awan yang melayang keliling puncaknya
5. Ku kasih hutan-hutan, selimut tanahku ku akan mengembara di bawah naungannya
6. Kukasih engkau, tanah yang dengan luasmu membayar kerajinan dan perkerjaanku.
Kijne pun mengucapkan syukur kepada Tuhan untuk tanah Papua dalam nyanyian Rohani 121:3
“Syukur ya Tuhan Hu, yang dalam t’rang baka kuasa tangan-Mu memb’ri sejahtra. T’lah purba, Hu, ajaib mujizat-mu kekal-kekal, kekal perintah-mu teguh”.
Kijne mendoakan keselamatan tanah Papua dengan menyanyikan nyanyian Rohani 121:1
“Selamat tanah yang di lindungi Tuhan, Hu,
Meski di timpa prang; sokongan-Nya tentu.
Baik musuh t’lah menggah ’kan kemenangannya
Seg’ra, seg’ra, seg’ra, k’lak datang jatuhnya.
Rasa kecintaan I.S. kijne kepada orang papua begitu besar sehingga waktu untuk bersama keluarga sangat terbatas, sehingga Mieke Kijne pernah mengatakan kepada ayahnya ....“ Bapa lebih mencintai orang Papua dari pada kami.”
Sepanjang dua tahun Kijne di Papua, sejak 1923-1925, ia menganalisis sosial budaya, adat istiadat, kepercayaan, kemampuan anak-anak Papua untuk menangkap dan mendengarkan alat musik, bernyanyi, berkerja, status sosial, maka Kijne pun mengambil suatu kesimpulan bahwa ia harus membatasi anak-anak Ambon, Sangir, dan Tabelo yang bersekolah di Mansinam dan biarlah anak-anak negri Papua belajar dengan pola kehidupan yang mereka alami setiap hari dan di mulai dari dalam dirinya, keluarga, halaman rumah/asrama dan setelah itu ke lingkungan masyarakat di mana mereka berada.
Menyadari pentingnya sekolah bagi anak-anak Papua, dan menghindari sikap murid-muridnya yang seakan memberi kesan bahwa pendidikan tidak terlalu penting, tetapi juga karena mereka di kuasai oleh anak-anak amberi, maka Kijne mengatakan:
“Saya berpendirian bahwa khusus untuk anak-anak Papua, lebih dididik untuk hidup mandiri, sehingga mereka sendiri dapat berprestasi. Untuk itu, sesungguhnya mereka mesti mempunyai satu sekolah dalam arti yang sebenarnya, dimana mereka tidak menerima kesan bahwa sekolah hanya sekedar tiruan saja untuk anak-anak Papua.”
Atas dasar inilah, Kijne mempunyai sebuah visi dan misi bagi masa depan bangsa Papua karena Kijne mengetahui blue print Tuhan ats Papua maka ia bergelut terus dalam berpuasa dan meminta petunjuk Tuhan tentang maksut Tuhan atas bangsa dan tanah Papua – Kijne mulai bertekun didalam doa dan puasa dan Tuhan menaruh perkataan ini padanya “inilah waktunya lalang harus di pisahkan dari gandum”.
Kijne memulai agenda Tuhan yang semestinya dilakukan bagi umat-Nya diatas tanah yang dijanjikan ini, ia melihat, mengamati dan belajar dari kehidupan anak-anak didiknya di Mansinam, Miei, Joka dan serui, sehingga Kijne mengatakan.
“Sungguh bergembira - ria kehidupan di Mansinam, pekarangan zendeling yang dulu di huni J.L. Van Haselt, di remajakan. Pemuda dari segala penjuru, dari bagian utara, dan bagian barat, berkerja di sekolah dan pekarangan . Lagu-lagu baru mulai berkumandang, sudah datang kini harapan bahwa pemuda Papua akan berkerja demi bangsanya sendiri, seperti yang sebelumnya dilakukan oleh begitu banyak guru Ambon dan Sangir. Mereka mau berkerja dan bisa berkerja, membangun dan menjaga kebersihan, menanam dan menyanyi, mencangkul dan menggaru, mereka bisa bernyanyi dan memainkan musik, mereka belajar bermain. Seandainya Ottow dan Geissler ikut mendengar musik yang aku dengar dekat tempat di mana mereka pernah untuk pertama kali menginjakan kakinya, maka mereka pasti akan bergembira.”
Proklamasi nama Tuhan di Mansinam diperuntukan bagi Papua, - Ketika proklamasi Sinai, nama Tuhan datang kepada bangsa Israel dan tidak ke bangsa lain.
Kijne menangkap maksut Tuhan bagi Papua sehingga bertekad penuh untuk memisahkan anak-anak Papua dari anak-anak Sangir, Ambon dan Tobelo. Apa yang Kijne lakukan itu merupakan perintah Tuhan yang harus dilakukan, maka ia menyanyikan nyanyian Rohani 165:1-2
1. Yesus memesan: dalam malam g’lap
Hendak kita jadi lilin yang gerlap.
Akan hormat Tuhan bercahayalah
Anak masing-masing disudutnya.
2. Yesus menegur: Aku tahu tetap,
Lilin mana t’rang dan mana yang gelap;
Kalau sudah suram atau t’rang cerah
Anak masing-masing disudutnya.
Kijne sangat mencintai Papua dan alamnya sehingga ketika berkunjung ke Aitumieri ia berkata:
“Bukit Aitumieri miei Teluk Wondama letaknya sangat indah, tanahnya subur dan luas, airnya jernih dari sungai yang tidak pernah kering . . . . . . . disana tempat untuk perkerjaan yang berguna demi sebuah kehidupan yang menyatu secara alamiah.”
Di tempat inilah deklarasi peradaban bangsa papua ditetapkan oleh I.S. Kijne - dari atas batu Bileam memberkati Israel – dari atas batu I.S. Kijne membawa Papua kepada Tuhan untuk diberkati (Bilangan 24:1).
Bileam melihat rencana Tuhan atas Israel – kijne menangkap denyut hati Tuhan bagi Papua karena Tuhan berbicara kepada mereka. (Bilangan 24:15).
Dari gunung Bileam melihat suku bangsa Israel dan membuat syair bagi Israel – dari gunung Aitumieri Kijne melihat suku bangsa Papua dan menciptakan nyanyian Rohani, Mazmur, Suara Gembira, dan Seruling Mas bagi Papua ( Bilangan 24:1-9).
Roh Tuhan menghinggapi Bileam ketika melihat suku Israel dengan penuh hormat – Roh Tuhan menghinggapi Kijne karena ia memikir suku bangsa Papua dengan serius (Bilangan 24:2). Oleh karena Kijne memikirkan bangsa Papua dengan serius maka Tuhan menurunkan roh-Nya atas Kijne untuk membuat syair-syair dalam Nynyian dan buku-buku.
Tutur kata Bileam dan nubuatan I.S. Kijne adalah tutur kata dan nubuatan dari orang yang terbuka matanya - (Bilangan 24:15). Perkataan-perkataan I.S. Kijne berasal dari Tuhan dan Kijne telah melihat rencana besar Tuhan atas Papua sehingga ia diberikan roh dari Tuhan sebagai penyair. Inilah dasar lahirnya nyanyian mazmur, rohani, seruling mas dan suara gembira yang dikarang oleh I.S. Kijne
Kijne menyadari bahwa dia hanyalah manusia biasa yang di panggil Tuhan untuk melakukan kehendak-Nya, sehingga Kijne mengungkapkannya dalam nyanyian Rohani 133 : 4, “Kami ini bunga saja, layu habis musimnya, tapi keadaannya, Raja tak berubah tak lemah Puji Raja, yang kekal kuasa-Nya.”
Itulah ungkapan Dominee I.S. Kijne yang menggambarkan kehidupan dari keluarganya dan seluruh hidupnya yang di persembahkan bagi Tuhan untuk rencana-Nya atas tanah Papua ujung Timur bumi. Dibalik itu Kijne mengucap syukur kepada Tuhan karena dengan rahmat Tuhan dia melakukan hukum Tuhan . (Roma 7:25a. “Syukur kepada Ellohim! Oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Tuhan.”)
Rasa kecintaan I.S. Kijne terhadap orang Papua didalam tugasnya begitu mendalam, sehingga dirasakan bahwa memang permulaan mendengar nama New Guinea (Papua) disampaikan kepadanya di Eropa, terasa sesuatu yang mengorek dirinya, bukan karena sebuah pekerjaan semata tetapi rasa yang mendalam itu karena Tuhanlah yang mengorek perasaan I.S. Kijne karena bangsa ini dalam pengawalan Tuhan, oleh karenanya I.S. Kijne selalu berdoa untuk tanah dan bangsa ini. Kijne selalu naik ke gunung Aitumieri untuk berdoa (berjumpa) dengan Tuhan untuk menawarkan orang Papua kepada Tuhan agar selau diberkati, dan diampuni karena kesalahan dan dosa yang mereka perbuat. Kijne bergulat dengan Tuhan untuk keselamatan Papua ia mengikat perjanjian dengan Tuhan bagi Papua.
Ungkapan rasa kecintaan yang amat mendalam itu disampaikannya melalui nyanyia seruling mas Nomor 1:2-3 dan Nomor 22:6,4,5.
2. Dari awal rendah, dari pintu gelap aku terpanggil, aku terbangun dan berdiri tetap dan melihat ke muka, dengan maksud benar; hutan rimba terbuka, hasil tanah besar karena anakku semua sehati teguh menanggung usaha dan panggilanku Hiduplah Tanahku, Hai Papua
3. Ke Benua darimu tercerai ku mengembara lihat negara yang ganjil permai, lautan luas yang biru, gunung rimba gelap, kaki langit yang baru memanggil tetap, tapi hai tanahku, kemanapun jalananku tentu aku pulang kelak kepadamu slamat ooo ! tanahku Hai Papua.
Nomor 22 :6,4,5
6. Ku kasih engkau tanah yang dengan buahmu membayar kerajinan dan pekerjaanku.
4. Ku mengembara lagi ke hutan yang lebat tahu tiap-tiap jalan dan tak sesat Aku terkenang tempat yang senang kau tarik rindu hati kepadamu.
5. sekali aku pulang ke tanah airku kau tarik rindu hati kepadamu aku terkenang tempat yang senang kau tarik rindu hati kepadamu.
Dari lirik lagu yang dikarang oleh Kijne ini, kita dapat melihat betapa besar kecintaannya untuk tanah Papua. Oleh karena kecintaannya kepada Papua sehingga Kijne ingin mengkhususkan Papua dalam bingkai Tuhan yang sesungguhnya untuk penggenapan firman Tuhan yang dinubuatkan oleh para Nabi.
Dominee I.S. Kijne adalah hamba Tuhan yang menjadi terang di tengah-tengah suku bangsa Papua. Kijne dituntun oleh Rohul Kudus dalam pendekatannya, oleh karena itu dengarkanlah dia, karena Tuhan telah memanggil dia sejak dari kandungan, telah menyebut namanya sejak dari perut ibunya (Yesaya 49:1 & 3).
Tuhan memanggil I.S. Kijne sebagai hamba-Nya bagi Papua, dan melalui Dominee I.S. Kijne Tuhan menyatakan keagungan-Nya, sekali lagi disampaikan bahwa hidup Kijne dikendalikan oleh Tuhan didalam Rohul Kudus sehingga menjadi terang bagi Papua.
Panggilan Musa, Tuhan mengutusnya untuk membawa Israel keluar dari Mesir dan musa pun melakukan perintah Tuhan - Panggilan Kijne Tuhan mengutusnya untuk mendidik orang Papua secara khusus. Atas dasar inilah Dominee I.S. Kijne berkata :
“Saya berpendirian bahwa khusus untuk anak-anak Papua lebih dididik untuk hidup secara mandiri, sehingga mereka sendiri dapat berprestasi. Untuk itu sesungguhnya mereka mesti mempunyai satu sekolah dalam arti yang sebenarnya . dimana, mereka tidak menerima kesan bahwa sekolah hanya sekedar teman saja’’.
Kijne tidak mau untuk anak-anak Papua belajar bersama-sama anak-anak amberi (Ambon, Sangir, Tobelo) di satu sekolah karena anak-anak Papua memiliki perbedaan dan ciri-ciri tersendiri, maka jangan digabungkan dengan anak-anak amberi sehingga anak-anak Papua dapat dididik secara mandiri supaya suatu kelak nanti mereka akan berpikir tentang tanahnya dan bekerja untuk tanahnya. Dengan dasar ini maklumat Aitumieri ditetapkan, dimana Kijne mendeklarasikan Peradaban Papua di atas batu dan menawarkan kehormatan orang Papua kepada Tuhan dengan maklumat deklarasi bahwa;
“Di atas batu ini, saya meletakan peradaban orang Papua, sekalipun orang lain memiliki kepandaian tinggi, akal budi dan marifat untuk memimpin bangsa ini, tetapi bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri.’’ - Aitumieri 25 Oktober 1925”.
Dengan maklumat Aitumieri ini maka kebangkitan Papua telah dimulai, bila tidak ada maklumat Aitumieri, tidak ada kepemimpinan orang Papua. Perjalanan Papua dalam sejarahnya berada dalam standard alkitab yang digambarkan melalui kisah bangsa Israel.
Musa diutus membawa Israel keluar dari Mesir - Ottow dan Geisler membawa Papua keluar dari perhambaan dunia. (Keluaran 3:10;12:51).
Bileam membela orang Israel karena Tuhan menaruh perkataan atas Bileam - I.S. Kijne membela orang Papua karena Tuhan menaruh perkataan atas Kijne. (Bilangan 23:16-25).
Musa membela bangsa Israel karena Tuhan memerintahkan Musa – I.S. Kijne membela orang Papua karena Tuhan memerintahkan Kijne. (Keluaran 2:11-12).
Bileam memberkati Israel karena Israel baik di mata Tuhan - I.S. Kijne memberkati papua karena Papua baik di mata Tuhan. (Bilangan 24:1).
Bileam melihat bangsa Israel dengan baik berdasarkan suku-suku mereka maka Roh Tuhan hinggap atas dirinya – I.S. Kijne melihat Papua dengan baik berdasarkan suku-suku Papua maka Roh Tuhan hinggap atasnya. (Bilangan 24:2).
Bileam berkata kepada Israel karena Roh Tuhan membuka matanya – I.S. Kijne bernubuat kepada orang papua karena Roh Tuhan membuka matanya. (Bilangan 24 : 3).
Bileam memberkati Israel karena mendengar perkataan Tuhan dan melihat penglihatan dari yang Maha Kuasa - Kijne meletakan peradaban orang papua karena mendengar firman Tuhan dan mendapat penglihatan dari Tuhan. (Bilangan 24:4).
Mata bileam dibukakan oleh Tuhan maka Bileam menciptakan sajak-sajak kepada Israel – Mata Kijne dibukakan oleh Tuhan maka ia membuat syair-syair bagi Papua. (Bilangan 24:15).
Bileam melakukan semua itu karena Bileam melihat masa depan Israel yang begitu jauh ke depan; karena bintang terbit dari Yakub dan tongkat kerajaan timbul dari Israel. Perkataan tersebut menyampaikan bahwa bintang adalah Yesus sang Raja pemegang tongkat kerajaansorga akan lahir dari bangsa Israel – Kijne melihat Papua dalam rencana besar Tuhan yang begitu jauh ke depan karena dari papua ujung timur akan terjadi lawatan Roh karena Yesus sang raja akan datang dari sana. (Bilangan 24:17).
Bileam pulang ke tempatnya – I.S.Kijne pulang ke tempatnya (Bilangan 24:25a). Sementara Israel tinggal namun melakukan pelanggaran, terjadi perzinahan dengan perempuan dari bangsa lain, perempuan dari bangsa lain itu mengajak orang Israel melakukan korban sembelihan bagi allah mereka, lalu bangsa Israel turut makan dari korban itu dan menyembah allah orang-orang itu, - ketika I.S. Kijne pulang ke tempatnya orang Papua tinggal namun melakukan perzinahan dengan perempuan amberi (lihat sejarah Papua ketika tokoh-tokoh Papua dibujuk dengan wanita-wanita amberi ), perempuan dari amberi mengajak orang Papua untuk melakukan konspirasi dan menghormati apa yang semestinya bukanlah adat istiadat Papua. (Bilangan 25:1-2). Ketika Israel berpasangan dengan Baal-peor, bangkitlah murka Tuhan terhadap Israel – ketika Papua berpasangan dengan amberi Tuhan menjadi murka kepada Papua.
Pernyataan-pernyataan yang dituliskan ini sedang terjadi, dan hal itu dilakukan agar genaplah firman Tuhan atas Papua, karena di ayat-ayat selanjutnya menyampaikan bahwa akan terjadi hukuman atas kepala- kepala yang memimpin suku bangsa itu – Pemimpin-pemimpin Papua telah ditangkap setiap saat karena perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan – Sebab ketika itu Musa memerintahkan kepada hakim-hakim Israel untuk masing-masing membunuh orang Israel yang berpasangan dengan Baal-Peor, suatu ketika diatas tanah ini Tuhan akan memerintah para hakim untuk melakukan hal yang sama terhadap pemimpin Papua yang telah berpasangan dengan bangsa lain.
Ketika murka Tuhan itu brakhir, Tuhan memerintah musa untuk mempersiapkan prajurit yang jago tempur untuk berperang – Akan datang waktunya pemuda ditanah ini akan dipeisiapkan sebagai prajurit Tuhan. (Bilangan 26:1-2).
Sesudah itu Tuhan berfirman kepada Musa untuk mendata suku-suku Israel – akan ada pendataan marga-marga asli orang Papua menurut asal sukunya. (Bilangan 26:2).
Ketika pendataan Israel selesai Tuhan berfirman kepada Musa, “Kepada suku-suku itulah harus dibagikan tanah itu menjadi milik pusaka menurut nama-nama yang dicatat” – Ketika pendataan marga-marga asli orang Papua, maka sesuai perintah Tuhan agar masing-masing kembali ke tanah leluhur asal marga mereka, karena tanah itu adalah harta pusaka marga mereka yang sudah dibagikan Tuhan diatas tanah ini. (Bilangan 26:52-53).
Papua bangsa penggenapan dunia, kepemimpinan Papua Kijne diposisikan sebagai Bileam – Musa bagi Papua belum ditemukan, karena semua yang datang telah gugur entah siapa Musa bagi Papua. Bila tak ada kemuka tak tentu, Tuhanlah juru mudi.
Dengan melihat Israel, Papua mengenal identitasnya karena perjalanan Papua ditetapkan didalam perjalanan Israel. Israel tak bisa berjalan tanpa Papua – Papua tidak dapat berjalan tanpa Israel. Israel dan Papua saling membutuhkan karena Israel dipilih Tuhan sebagai tempat tahta kerajaan-Nya dan Papua dipilih sebagai pintu masuk-Nya. Jika Israel belum disempurnakan, kerajaan Ellohim pun belum siap maka waktu kedatangan-Nya pun ditunda. Jika Papua belum dipersiapkan, gerbang timur tetap tertutup maka waktu kedatangan Tuhan pun ditunda. Israel kawal kerajaan Tuhan, Papua kawal pintu Tuhan. Walaupun Israel telah mencapai kesempurnaan tetapi jika Papua belum siap maka Tuhan belum datang karena pintu belum dibukakan oleh pengawal, demikian jika Papua siap tetapi Israel belum mencapai kesempurnaan Tuhan belum datang karena tahta-Nya belum diselesaikan. Namun sepertinya pekerjaan kesempurnaan sedang dalam tahap finishing.
Penggenapan kerajaan Tuhan Papua dan Israel menentukan, oleh karena itu Israel dan Papua harus saling sinergi, terutama Papua segera bangkit dan memberitahukan kepada Israel bahwa Tuhan mereka adalah Raja damai yang akan datang dari arah timur jauh ujung bumi (Papua). Kesempurnaan Israel adalah sebuah pekerjaan yang ditugaskan oleh Tuhan kepada bangsa Papua untuk dikerjakan. Israel pusaka Tuhan – Papua pengawal pusaka.
“Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuatan ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis didalamnya, sebab waktunya sudah dekat”. (Wahyu 1:3).
SUMBER : http://studyisraelpapua.blogspot.co.id/2016/03/dasar-dasar-lahirnya-nubuatan-is-kijne.html
Comments
Post a Comment
thx